>Semoga Tuhan memberimu kedamaian

>

Bangun pagi  pukul 4.30 , mandi , shalat sarapan sekedarnya lalu pukul 5.45  saat orang lain masih duduk menikmati kopi di pagi hari aku sudah harus meninggalkan rumah, demikianlah rutinitas sehari-hari yang harus saya jalani selama hampir 6 tahun belakangan , sekolah yang berjarak 42 KM dari rumah terasa dekat sudah, cuma rasa capek itu sekarang malah lebih terasa. 
Akhir-akhir ini  rasa capek itu sedikit terobati dengan kehadiran tiga siswa baru di sekolahku yang selalu datang lebih pagi dari aku, meski rumah mereka sekitar 9 km dari sekolah, namun mereka tempuh dengan bersepeda sekitar 20 menit saja, mereka selalu tersenyum hangat saat aku tiba di sekolah pada pukul 7.00, namun satu yang siswa yang menarik perhatian saya adalah siswa yang bernama Asri. 
Asri  pendiam dan hanya sesekali menjawab bila diberi pertanyaan, namun bila disuruh mengerjakan sesuatu maka ia akan langsung menyelesaikannya tanpa banyak bicara. Saat istirahat sekolah aku sempat ngobrol dengan dia ” Nak kamu tinggal dimana , kelihatannya kamu beda dengan teman-teman kamu,  jarang bermain bersama, jarang tertawa dan tidak pernah ke kantin”. Dengan raut muka datar ia menjawab dengan sesuatu yang membuat hati saya miris ” saya tinggal di Arra pak gunung sebelah utara sekolah ini, jaraknya sekitar 9 km dari sini, dari kecil saya memang jarang bermain pak, karena  kami hidup dalam kemiskinan  ibupun harus susah payah menghidupi saya beserta adik setelah ditinggal oleh pergi oleh bapak, namun 3 bulan lalu  ibu seakan kehilangan semangat hidup setelah adik saya meninggal karena sakit , jadi sekarang sayalah yang harus bekerja pak sepulang sekolah , jadi kira-kira kesenangan apa yang bisa membuat saya bermain dan tertawa  , buat saya tawa itu memang sudah lama hilang.  Tenggorokan saya terasa tercekat dan tidak bisa bertanya lagi.
Tadi pagi saya berangkat ke Sekolah seperti biasanya namun ada sesuatu yang lain pagi ini hanya dua orang siswa yang duduk di pintu masuk sekolah asri nggak kelihatan, lalu aku aku tanya pada Edi siswa satunya lagi , 
” Asri mana nak kok tidak  bersama kalian”. 
” Bapak tidak datang hari Sabtu ya”, 
‘ iya nak aku deman dan tidak bisa bawa motor hari itu”.
” Saat pulang dari nonton acara tujuh belasan pada hari Jumat sore di tanjakan Waru , rantai sepeda asri lepas Pak, ia lalu tunduk untuk memasangnya kembali  seperti yang sering ia lakukan selama ini , namun malang pak dari bawah sebuah sepeda motor melaju kencang dan langsung menyeretnya sejauh 20 meter, kepalanya terbentur keras dan ia tidak tertolong lagi , semuanya terjadi begitu cepat pak bahkan kami tidak sempat untuk berteriak dan dia sudah pergi”. Setelah mendengar semua itu entah kenapa Kepalaku terasa Pening dan aku langsung masuk kantor tiduran , bahkan Upacara Bendera Pun urung kuikuti tadi pagi.
Semua begitu bersedih dan rencananya besok sepulang sekolah kami akan berangkat ke gunung tempat tinggal Asri , meski mayatnya sudah dikebumikan namun kami ingin memberikan dukungan moril kepada ibunya yang telah kehilangan kedua anaknya , sekaligus kami ingin memberikan sumbangan ala kadarnya dari semua siswa sekolah kami. Beristirahatlah dengan tenang siswaku semmoga sekarang kesibukan dan bebanmu sudah hilang.
Ini adalah gugusan pegunungan sebelah utara sekolah kami tempat tinggal Asri
Iklan

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s