>Menarik Garis Panjang Ke Belakang

>

Dalam bulan Ramadhan  kita bisa merasakan perasaan peningkatan persatuan dan menjadi satu umat ,karena ketika  puasa dan berbuka puasa bersama , kita merasakan peningkatan kesadaran tentang keadaan kaum muslimin dan kesulitan  mereka bertahan, karena: “Selama puasa seorang Muslim merasa dan mengalami apa yang saudara-saudaranya  butuhkan dan dapat pula merasakan lapar dari saudara  yang terpaksa pergi tanpa makanan dan minum selama berhari-hari – seperti yang terjadi sekarang  pada banyak kaum muslimin di Afrika.Sesungguhnya, persatuan umat Islam  dapat diwujudkan dengan saling  membantu satu sama lain  itu  adalah salah satu dasar utama tegaknya  Agama Allah .

Allah Berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. ” [Surah Ali-‘Imraan 3:103]. Dimana Pria mukmin yang kuat adalah pelindung bagi mukmin yang lemah.Dan Ingat pula Al Qur’an mengatakan bahwa sesungguhnya ummat islam itu bersaudara

Shaykhul-Islaam Ibnu Taimiyah  berkata:

“Kesejahteraan masyarakat tidak akan lengkap  tidak di dunia ini, maupun di akhirat kecuali dengan ijtimaa ‘(kebersamaan), ta’aawun (kerja sama), dan tanaasur (saling membantu); saling kerjasama untuk hal yang bermanfaat , dan saling membantu dalam rangka untuk menangkal bahaya. Hal ini karena alasan bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial dan sipil oleh alam. “

Jadi kita melihat bahwa Islam menggaris bawahi  pentingnya  dalam membawa hati bersama-sama dan mendorong ijtimaa ‘(kebersamaan). Hal ini tidak hanya tercermin di bulan Ramadhan, tetapi juga dalam tindakan-tindakan lain ibadah juga. Jadi, misalnya, kita telah diperintahkan . Demikian pula, semangat kolektif yang sama ditunjukkan dalam tindakan Haji (Haji). Bahkan dalam pembelajaran pengetahuan dan mempelajarinya, berkat telah ditempatkan dalam kebersamaan.  Demikian juga, bahkan dalam tindakan kita sehari-hari seperti makan, Islam mengajarkan kita kebersamaan.

Dengan demikian, Ramadhan adalah waktu untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan persaudaraan, dan komitmen  untuk kembali kepada  Allah dan Agama-Nya. Dan tidak ada keraguan bahwa ini menuntut rasa persatuan bahwa: “Kami bekerja bersama sebagai diperlukan oleh Islam sebagai saudara tulus – bukan karena hizbiyyah (fanatik partai roh), atau sektarianisme – kita selama bulan Ramadhan dan bertanya: Apakah peran saya ? – Dan masing-masing dari kita memiliki peran – dalam membantu umat ini  untuk mendapatkan kembali kehormatan, dan kembali ke kesatuan umat yang komprehensif dan kuat, dan kemenangan yang telah dijanjikan itu? Demikian juga, kita harus merenungkan karakter dan tindakan kita sendiri dan bertanya: Apakah kita  membantu proses persatuan dan persaudaraan, atau menjadi penghalang hal tersebut

Jadi, kami meminta Allah untuk memberikan kita kemampuan untuk mengubah diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik, selama bulan  diberkati, ini dan tidak termasuk orang-orang yang dicegah dari rahmat dan pengampunan Nya. SesungguhnyaAllah Maha Mendengar dan Maha Pengasih.

Memang sejak runtuhnya khalifah terakhir di Turki oleh sang terkutuk Mustapa Kemal Attarturk . Maka ummat Islam bagaikan anak ayam kehilangan induk, kita semua menjadi takut mati dan cinta dunia melebihi kepada cinta kita kepada Nya. Maka terjadilah pencaplokan Palestina oleh Israel, Turki berubah menjadi negara Sekuler dimana Play Boy bebas beredar, kemudian semua negara Islam Sibuk sendiri  dan meninggalkan persatuan mereka, bahkan yang lebih parah lagi sejarah  kemudian mencatat ,Iran dan Irak saling Serang , Perang Saudara di Sudan, Afghanistan dan setan Pun tertawa, Umat Islam Begitu mudah diadu domba ketika agama bukan lagi merupakan hal tertinggi dalam kehidupan mereka di dunia ini, maka terjadilah apa yang dikatakan Rasul bahwa suatu saat kaumku akan seperti roti yang di bagi-bagi , bukan karena jumlahnya sedikit tetapi seperti buih di lautan dan seperti debu di padang pasir itu karena  mereka cinta dunia dan takut mati.

Dan Yang Sekarang sepertinya sedang memanas adalah kawasan Asia Tenggara. Kita tunggu saja apakah kawasan ini yang merupakan kawasan dengan penduduk islam Terbanyak akan segera membara dan saling Serang, tentunya kita tidak pernah menginginkan perang , tetapi jika  manusia masih terus dikuasai oleh bisikan setan dan tak lagi menghargai persaudaraan maka tunggulah  Kejadian tersebut. sebagai anak negri hasil murni kandungan ibu pertiwi, tentu kita akan “mengganyang” siapapun yang berani menghina dan menginjak-injak rasa nasionalisme kita, cumaaaaaaaaaaaaa…
apakah sudah saatnya kita “mengganyang” tetangga kita ? bukankah kita dan mereka tidak ada beda dan hanya dibatasi sekat negara warisan para kolonial yang mengkotak-kotakan kita ? warna kulit sama, bentuk mata sama,

bahasapun nyaris sama, bahkan sebagai muslim kita satu tubuh satu rasa dan bersaudara. entahlah siapa yang awal berwacana “ganyang mengganyang” ini, kalau soal perselisihan, jangankan dengan tetangga, dengan saudara kandungpun kadang kita sengit juga ? apakah akan teriak “ganyang” juga ? lalu siapa yang akan memancing di air keruh hasil ganyang-mengganyang ini ? ketika saudara seiman kita diganyang di palestina dan marvimarmara koq mereka yang sekarang keras teriak ganyang tidak ada suaranya ?…

Iklan

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s