>Petikan Suluk Sukarsa , sebuah mutiara hikmah warisan leluhur

>Suluk ini adalah tembang yang dilagukan oleh seorang dalang ketika menceritakan sebuah lakon wayang,  Suluk banyak muncul saat jaman penyebaran agama islam Di Jawa bahkan digunakan oleh para Sunan dalam berdakwah dibawah ini saya akan memuat salah satu kutipan Suluk Sukarsa yang mengandung hikmah luar biasa.

Sastra gumelar ing jagad kang atuduh pangawikan,
kang weruh ing tuduh sampurna tan ana ireng ing pethak,
yen sira sampun waspada lumampaha alon-lonan,
kebirira lan sumungah ujub loba singgahana.

Ki Sukarsa wus alayar ing sakathahing segara,
Margane tekeng makripat tanpa etung urip pejah,
Damare murub tan pejah panganggo mulya tan rusak,
Asangu tan kena telas angungsi ing desa jembar.

Ki Sukarsa dennya layar perau sabar darana,
Salat mangka tiyangira kinamudhen pangawikan,
Linyaran amangun hak winelahan niat donga,
Den watangi panenedha den pulangi lawan tobat.

Den labuhi sukurulah den taleni lan kana’at.
Den pulangi lan wicara den damari lan makripat.
Ki Sukarsa dennya layar wus tekeng segara rakhmat.
Kawasa denira layar wus tekeng segara ora.
Demikianlah suluk Sukarsa. Menurut Prof. Dr. RM. Ng. Purbocaroko dalam Kepustakaan Jawa-nya, mengemukakan bahwa kitab suluk Sukarsa ini dalam bentuk tembang (ciri suluk), berupa Cloka, yaitu tembang cara kuna. Logat bahasanya adalah bahasa Jawa Tengahan (pertengahan) yang muncul antara Jawa Kuna dan Bahasa
Jawa Baru. 
Cloka ini terdiri dari 4 baris, di mana setiap baris terdiri laku delapan dan delapan, sudah tidak berpatokan dengan Guru dan Lagu. Suluk Sukarsa empat itu merupakan bagian terakhir.
Adapun terjemahannya adalah:
 
Sastra tergelar di dunia menunjukkan sebuah pengetahuan
tentang tuntunan kesempurnaan,
tak ada hitam pada putih,
bagi orang yang telah mencapai hikmat berjalanlah pelan-pelan,
takabur dan sombong perilaku tamak tentu disingkirkan.
 
Si Sukarsa bagaikan telah berlayar di segala lautan, sebagai
jalan untuk sampai ke tempat ma’ripat yang tidak memperhitungkan
hidup atau mati,lampunya senantiasa menyala busana kemuliaan tak akan
rusak, bekal yang dibawa tak akan habis, saat mengungsi di desa uas.
 
Si Sukarsa dalam pelayarannya, dengan naik perahu kesabaran,
shalat sebagai orang yang mengemudi tentang pengetahuan,
dijalani sebagai pembangun hak, dengan menggunakan kemudi
niat dan doa dengan segala permohonan,
diakhiri dengan pertobatan.
Dilakukan dengan selalu bersyukur diikat dengan menggunakan kana’at,
dilakukan dengan bela bicara dengan penerangan ma’ripat,
 
Si Sukarsa dalam pelayarannya telah berada pada lautan
rakhmat,selamatlah dalam pelayaran itu sehingga sampai pada lautan
tiada (meninggal dunia?).
Demikianlan Mutiara hikmah peninggalan leluhur semoga kita bisa memetik hikmah dan makna setelah membacanya

>Mari kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa

>Integritas bangsa Indonesia menghadapi ujian yang berat di era globalisasi. Dari luar negeri kita menghadapi serbuan budaya global yang masuk melalui beragam media komunikasi dan informasi, sedangkan dari dalam kita menghadapi fenomena hilangnya nilai-nilai luhur bangsa. Rakyat menjadi pemarah, mudah curiga dan gampang terprovokasi. Tawuran antar kampung, antar pendukung, main hakim sendiri adalah hal yang biasa kita lihat di  TV, Mahasiswa dan Pelajar apalagi , Tawuran jadi hobby. Fenomena itu diperparah dengan munculnya kesenjangan sosial dan ekonomi dalam masyarakat, kemudian yang menyeruak paling belakang adalah Perilaku mesum yang muncul dimana-mana, . Apa muara dari semua itu? Tidak Tahulah kita cuma bisa berdoa mudah-mudahan Tuhan tidak mengazab negeri kita seperti yang telah ditimpakan kepada kaum-kaum terdahulu..

Adalah sesuatu yang mengherankan saat Pancasila kita sepakati sebagai sumber nilai dan norma kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi semua penyimpangan tersebut  masih bisa terjadi hanya karena masalah yang kecil dan sepele. Apa yang harus kita lakukan agar kedamaian hidup serta perilaku luhur  anak bangsa bersemi kembali di persada Nusantara. Marilah mulai dari diri sendiri memperbaiki tingkah laku dan moral kita dan juga melakukan langkah-langkah dibawah ini:
1. Berpegang Teguh Pada Norma-norma Agama dan Sosial
2. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
3. Memperkuat Nasionalisme (Kesadaran Nasional).
Terakhir ijnkanlah saya mengutip satu syair pedalangan milik (Ki Piet Asmara Mojokerto) yang berisi nilai luhur budaya bangsa
Swuh rep data pitana,
Rep swuh rep, rep swuh rep saking karsaningsun,
Sekar kawi kang sinawung,
Kinarya resmining kidung,
Binarung swaraning gending Gandakusuma munya,
Kekanthening Budaya, ing nguni Budaya iku tanama,
Anane Budaya iku saking Negara,
Dhawuhe andika wali,
Kang sinawung mring pra pujangga Jawi,
Kinarya tepa tuladha,
Karo dene para janma sujana,
Lan swartane budi kang wus uning,
Ginane krawitan angiringi Budaya,
Ana gambaran ……….,
Mirip rupa warna jalma mengku sastra kang sunandhi,
Kedhik janma ingkang udani,
Manawa tan parameng kawi,
Lungguh panggung nyawang gegambaran,
Gegambaraning agesang,
Manungsa kang ana madyapada,
Aja kate darbe tindak ala,
Ngudia mring kautaman,
Dimen manggih kayuwanan.
yang artinya :
Dari suasana sepi, suwung, sunyi (awung-awung), kemudian
ada cerita,
Sunyi karena kehendakku,
Sekar (tembang) kawi yang menyertai,
Sebagai kidung resmi (sejati = suci),
Bersama suara gending Gondokusuma,
Sebagai bagian kebudayaan yang dulu tak ada,
Kalau ada berasal dari Negara,
Atas perintah para wali,
Yang direstui oleh para pujangga Jawa,
Sebagai suri teladan (contoh),
Bersama para cerdik-pandai,
Serta para budiman bijak,
(bahwa) fungsi gamelan sebagai pengiring seni Budaya,
Yang berujud gambaran,
Seperti wujud manusia ini mengandung sastra terselubung,
Sedikit orang yang mengerti/mengetahui,
Jika bukan ahli kawi (Budayawan),
Duduk di panggung mengamati gambaran,
Yaitu gambaran hidup dan kehidupan,
Manusia yang berada di dunia,
Jangan sampai berperilaku jahat,
Biarlah belajar tentang kebaikan/kesucian,
Agar mendapatkan keselamatan.

>Hiasi hidup dengan kebaikan dan hal positif

>

Problem  hidup yang kita hadapi begitu banyak, hampir setiap orang menghadapi masalah, ada yang bisa mengatasinya dengan baik, adapula yang tidak bisa mengatasi masalah tersebut, mari jadilah orang yang berpikir positif, dengan memandang hidup ini dengan indah, jangan memandang hidup ini adalah hak untuk mencari hal sebanyak-banyaknya, tetapi pandanglah hidup ini sebagai anugerah dan berkah.


Jadilah pribadi yang menyenangkan dengan rasa syukur yang selalu menghiasi kalbu dan perkataan, marilah kita menjadi pembawa senyum disetiap kehadiran kita , jangan menjadi sebaliknya, membuat orang selalu risih dengan kehadiran kita, sekali lagi hidup ini adalah anugerah, maka manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya.

Semoga dalam kehidupan yang singkat ini kita bisa dikenang karena hal yang positif bukan malah sebaliknya karena hal-hal negatif . Salam

>Kaya hati, Kaya sahabat

>Kadang Orang memandang Keberhasilan orang lain dari kekayaan, yaitu harta, otomatis kalau seseorang Kaya, maka ucapan seseorang akan terlontar, alangkah hebat, alangkah beruntung orang itu karena ia punya banyak harta, ya harta tidak bisa dipungkiri telah menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang sekarang.

Padahal alangkah malangnya seseorang jika di dunia hanya memiliki satu kekayaan, yaitu kaya harta, tanpa memiliki kekayaan iman, budi dan ilmu. Kekayaan itu malah mungkin akan membawa kebinasaan pada dirinya di hari kemudian, karena setiap harta yang ada pada kita akan dipertanggung jawabkan di hari kemudian, mungkin kekayaan itu malah akan mendekatkan diri kita kepada penderitaan yang kekal.

Meski tidak kaya hati dan ilmu paling tidak sekarang saya telah beruntung karena punya banyak sahabat, baik didunia nyata apalagi di dunia maya, jadi sekarang saya kaya dengan sahabat. Baru-baru ini sahabat saya bertambah lagi yaitu Bunglon Blog. blog dengan design yang cantik, beliau memberikan saya anugerah Award yang Cantik

Award ini saya teruskan kepada :
1. SaNtAi SeJeNaK
2. Bintang Air
3. Putri Malu
4. 7 Taman langit
5. Clara
6. achen